Index Berita   Suara Pembaca   Foto   Video   Mobile   Iklan Baris Hari ini: Sabtu, 10 Desember 2016 02:13
PEMILU 2014

Ongkos Politik Mahal, Capres Muda Sulit Bersaing

Print
Diskusi Tajam yang diselenggarakan sebuah situs online di kawasan Rawamangun, Jakarta, Senin (24/6/2013) kemarin.

Jakarta, Seruu.com.- Tingginya ongkos politik untuk menjadi calon Presiden (Capres) RI membuat Capres muda sulit bersaing dengan capres-capres tua yang sudah memiliki  modal politik cukup tinggi.

“Satu capres minimal harus keluarkan dana sekitar Rp 7 triliun dan itu tidak dimiliki oleh capres muda yang memiliki idealis,” terang Pengamat politik dari Universitas Indonesia Dr. Donny Tjahja Rimbawan dalam Diskusi Tajam yang diselenggarakan sebuah situs online di kawasan Rawamangun, Jakarta, Senin (24/6/2013) kemarin.
 
Bersama narasumber lainnya Ketum PRD Agus Jabo dan Mantan Juru Bicara Presiden Gusdur- Adhie Massardi, Rimbawan sepakat untuk Pilres tahun 2014 mendatang, kekuasaan masih dipegang oleh Status Quo.
 
"Belum ada perubahan yang mendasar, karena capres-capres tua yang memiliki modal, baik dukungan parpol maupun dana," tambah Rimbawan.
 
Hasil penelitian Rimbawan, besarnya ongkos politik yang harus ditanggung oleh para capres ini disebabkan oleh model pemilihan langsung yang mengacu pada demokrasi liberal, "Untuk memenangkan Pilpres dibutuhkan minimal 50juta suara dan itu memerlukan ongkos yang sangat tinggi," terangnya.
 
Rimbawan pesimis, jika terdapat capres alternatif yang berintegritas maka  keberadaan capres alternatif ini tidak lebih sebagai pemanis demokrasi, "jikapun capres alternatif ini bisa masuk dalam pencapresan, maka dibelakangnya akan ada pemodal. Dan jikapun terpilih maka capres ini akan dikendalikan oleh pemodal tersebut," cetus Rimbawan.
 
Mantan juru bicara Mantan Juru Bicara Presiden Gusdur - Adhie Massardi menegaskan tingginya biaya politik terjadi sejak masa SBY berkuasa.
 
Menurut Adhie SBY selama ini sudah merusak moral demokrasi di negara ini. Kerusakan tersebut terkait dengan perkembangan pemanfaatan uang dalam upaya meraih posisi politik.  Strategi SBY tersebut mempengaruhi cost demokrasi  atau biaya politik dalam sistem pemilihan langsung yang terjadi di Tanah Air.
 
“Saat itu SBY melakukan pencitraan politik yang sangat luar biasa. Pencitraan politik itu membutuhkan uang banyak. Waktu itu SBY menggunakan fox Indonesia (konsultan politik) untuk melakukan pencitraan. Di situlah SBY mulai merasuki politik uang,” papar Adhie.
 
Senada dengan Rimbawan dan Adhie, Ketum PRD Agus Jabo juga berpandangan keberadaan capres-capres alternatif terutama dari kalangan muda sangat sulit terwujud dalam Pilpres 2014 mendatang, "Jika kondisi seperti ini dan aman-aman saja tanpa adanya gerakan rakyat, maka penguasa selanjutnya tetap status quo," ungkap Agus.
 
Namun Agus berkeyakinan, jika kondisi seperti ini tetap berlanjut maka rakyat dengan caranya sendiri akan menentukan pemimpin masa depannya, "cepat atau lambat rakyat juga akan tersadar," pungkas Agus.  [Irm]

Galeri Video

Galeri Foto

BURSA IKLAN BARIS

Table 'seruuco_2011.bursa_posts' doesn't exist