Index Berita   Suara Pembaca   Foto   Video   Mobile   Iklan Baris Hari ini: Selasa, 27 Juni 2017 14:08
M H SAID ABDULLAH

Masyarakat Jatim Tidak Boleh Miskin di Daerahnya

Print
MH Said Abdullah dan Khalida Ayu Winarti (mengenakan baju putih)

Seruu.com - Madura terbelakang? Madura menjadi masyarakat 'kelas kedua'? Jangan lagi itu terjadi, mana kala pemimpin baru di Jawa Timur yang berasal dari Pulau Garam dipercaya memimpin 35 juta penduduk Jawa Timur. MH Said Abdullah siap untuk menjadikan masyarakat Madura makmur, tenteram dan damai di 'rumah'nya sendiri.

Nama MH Said Abdullah bagi masyarakat Madura dimanapun berada, sudah tidak asing lagi. Pria kelahiran Sumenep 22 Oktober 1962 ini adalah politisi sejati dan aktif sebagai anggota DPR RI dapil (Daerah Pemilihan) Madura. Dua periode menjadi wakil rakyat di Senayan (Gedung DPR RI), sosok bersahaja ini tidak lelah memperjuangkan nasib masyarakat Madura bukan hanya yang tinggal di Madura tapi yang berada di manapun jua.

Semangat perjuangannya semakin berkobar manakala dia dipercaya oleh partai yang selama ini dinaunginya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI P) untuk memimpin Jawa Timur bersama dengan Bambang Dwi Hartono (BDH). Andrenalin Said Abdullah semakin membara. Perjuangannya membela suku dan daerah asalnya akan semakin nyata jika dia menjadi pemimpin di provinsi dimana Madura berada di dalamnya. "Masyarakat Madura tidak boleh miskin di daerah asalnya. Madura harus makmur dan maju," tandasnya.

Tidak berlebihan jika putra Madura yang lahir dari pasangan (alm) Fatimah Gauzan dan Abdullah Syekhan Baqraf ini mengapresiasi partai berlogo Kepala Banteng dengan Moncong Putih itu yang teka mempercayakannya untuk menjadi pasangan Bambang Dwi Hartono (BDH) untuk maju dalam pertarungan sengit menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur.

Bagi Said Abdullah yang pengagum berat Soekarno atau Bung Karno, inilah sebuah penghargaan besar bukan hanya bagi dirinya tapi bagi masyarakat Madura. Karena Madura dipercaya untuk bisa tampil di depan. Karena setelah tahun 1977 setelah eranya Muhammad Noer yang sudah lama pemimpin Jatim, Madura tidak lagi tampil di depan.

"Sekaranglah saatnya. Madura harus berada di depan. Madura harus menjadi pemimpin di daerahnya. Hanya PDI P yang memberikan kesempatan bagi masyarakat Madura untuk bisa menjadi pemimpin di daerahnya," tegasnya.

Tidak berlebihan jika anggota Komisi VIII DPR RI ini berharap jika masyarakat Madura untuk bisa berpikir cerdas untuk mementukan nasibnya ke depan.

"Nasib masyarakat Madura berada di tangan masyarakat Madura sendiri. Kita harus cerdas memilih pemimpin. Pilihlah yang bisa memperjuangkan nasib, keinginan serta masa depan Madura. yang mengerti semua itu hanyalah dia yang berasal dari Madura," tandasnya.

Said Abdullah selama ini memang dikenal sebagai sosok pribadi yang vokal. Vokal dalam arti memperjuangkan hak-hak rakyat kecil. Bukan hanya masyarakat dimana dia berasal namun seluruh rakyat Indonesia. Karena ketika dia dipercaya untuk duduk sebagai wakil rakyat di Senayan, dia juga harus memperjuangkan nasib seluruh rakyat Indonesia.

Said adalah sosok yang non diskriminatif, sosok yang jempol. Dalam bahasa Madura sosok yang jhejhek, ekhlas, masamporna, parjhuga, open dan lalampanna.

Sosok Manusia Prime Mover

Bagi Said nantinya ketika dia dipercaya memimpin Jawa Timur mendampingi Bambang Dwi Hartono, dia pun akan memperjuangkan seluruh nasib rakyat Jawa Timur tanpa terkecuali, tanpa memandang suku, etnis, agama dan ras. Karena Jawa Timur yang merupakan provinsi terbesar kedua di Indonesia terdiri dari berbagai macam masyarakat dengan suku, etnis, agama dan ras berbeda. Jawa Timur adalah provinsi dengan heterogenitas.  Heterogenitas merupakan fakta yang tidak terbantahkan tentang Indonesia. Para Founding Fathers membangun negeri ini di atas keberagaman suku, kultur, agama, bahasa, ideologi politik dan sebagainya. Bangsa kita terdiri dari puluhan ribu pulau yang dihuni oleh suku-suku yang beragam. Indonesia berada di tengah masyarakat dunia sebagai satu bangsa yang sangat majemuk.

Kemajemukan mempunyai dua sisi yang saling berseberangan jika tidak dikelola secara benar. Di satu sisi, kemajemukan merupakan suatu kekayaan yang bisa menjadikan Indonesia suatu bangsa besar, kuat dan disegani. Sisi-sisi yang berbeda – entah suku, agama, kultur, aliran politik – ibarat unsur-unsur yang membentuk pilar utama sebuah rumah bangsa bernama Indonesia. Perbedaan-perbedaan itu bisa menjadi kekuatan yang mendorong terwujudnya persatuan dan kerja sama.

Tetapi, di sisi lain, keberagaman bisa tampil sebagai kekuatan destruktif yang menyulut pertentangan dan konflik serta mencerai-beraikan kehidupan suatu negara bangsa.  Perbedaan-perbedaan suku, agama, haluan politik dan sebagainya menjadi bara api yang menjalar ke mana-mana hingga menghanguskan persaudaraan dan meruntuhkan perdamaian. Kondisi seperti ini bisa terjadi kalau setiap kelompok masyarakat yang berbeda lebih suka mengedepankan kepentingan kelompoknya, dan selalu merasa diri yang terbaik, paling benar, paling berhak dan paling sahih. Kehadiran dan keberadaan kelompok-kelompok lain yang berbeda dengan “kita” dianggap tidak ada (nothing).

Konflik-konflik dan kekerasan-kekerasan berbau primordial yang merebak di sejumlah kawasan di tanah air sejak paruh kedua tahun 1990-an memperlihatkan betapa heterogenitas bangsa Indonesia mudah dibelokkan oleh kelompok-kelompok tertentu menjadi kekuatan destruktif. Kerusuhan-kerusuhan rasial yang terjadi di Kalimantan, Ambon, Maluku, Poso serta beberapa kota di Sumatera dan Jawa, termasuk Jakarta menyisakan luka parah (fisik dan psikogis) yang membutuhkan proses panjang untuk menyembuhkannya.

Dewasa ini, tampaknya, virus-virus permusuhan menjalar secara liar di tengah masyarakat Indonesia seperti wabah penyakit menular yang sulit dibasmi. Fenomena yang menguat akhir-akhir ini adalah betapa mudahnya orang tersinggung dan cepat marah. Kalau boleh digeneralisir, orang-orang Indonesia semakin temperamental. Emosi dan perasaannya seperti kepala korek api. Digesek sedikit langsung menyala. Repotnya, kemarahan itu semakin membara ketika yang menjadi lawannya adalah orang atau kelompok dari lain suku, agama, ideologi atau golongan.

Sementara itu, tindakan sewenang-wenang tanpa dilandasi hukum yang berlaku merupakan gejala yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, orang-orang cenderung mengelompokkan diri berdasarkan identitas primordial apakah suku bangsa, kultur, agama, ideologi politik dan lain-lain. Kondisi seperti ini merupakan ancaman besar bagi eksistensi bangsa Indonesia yang sangat heterogen.

Akibat terburuk dari realitas sosial tersebut adalah sebagian besar warga masyarakat, terutama yang tinggal di daerah-daerah yang rawan konflik, merasa bahwa Indonesia bukan lagi tempat yang aman untuk dihuni bersama oleh masyarakat yang memiliki latar belakang yang sangat beragam. Bagi mereka, semboyan ‘bhineka tunggal ika’ sudah kehilangan relevansinya. Itu hanya jargon politis yang tidak punya makna apa-apa. Mereka tidak merasakan ketentraman dan kedamaian berada di negeri ini. Pengalaman membuktikan bahwa kekerasan memang melukai semua orang, baik yang menjadi korban maupun yang menjadi pelaku.

Bagaimana membangun kerukunan dan perdamaian di atas heterogenitas masyarakat Indonesia? Jawabannya hanya satu: Indonesia membutuhkan manusia pendobrak (prime mover), yaitu orang yang bisa mendorong perubahan menuju tataran hidup bersama yang lebih baik, orang mampu berpikir dan hidup lintas batas agama, suku, adat istiadat, ideologi politik serta berbagai label sosial lainnya.

Said Abdullah adalah salah seorang manusia prime mover yang bisa menerobos tembok-tembok primordial. Dia hadir di tengah masyarakat sebagai seorang tokoh yang memiliki visi yang kuat tentang Indonesia yang satu, utuh dan  damai. Dia berjuang lintas batas demi kepentingan bersama tanpa memandang latar belakang sosial, budaya dan politik. Dia berada di atas semua kepentingan politik. Dia berjuang untuk keadilan, kerukunan dan kesejateraan semua orang.

Said Abdullah tampil sebagai tipe manusia  multikultural, yang bisa hidup secara berdampingan secara damai dan saling menghormati di atas fakta keserbaragaman kondisi sosial, politik dan ekonomi bangsa Indonesia. Kehadirannya di panggung politik Indonesia ibarat senyala api di tengah kegelapan, yang tidak pernah padam oleh terpaan badai.

Said Abdullah adalah sosok politisi yang memiliki visi yang kuat tentang Indonesia yang rukun dan damai. Dia memiliki kepedulian yang besar terhadap berbagai bentuk ketidakadilan yang menjalar di tengah masyarakat. Dia, misalnya, berbicara lantang ketika menangkap ketidakberesan dalam penyelenggaraan haji. Dia terlibat sangat intens dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan yang lintas batas. Dia bergaul dengan siapa saja tanpa memandang keserbaragaman latarbelakang. Cara bicaranya yang santun dan ramah membuatnya dekat dengan semua orang.


Politik Bukan 'Mainan' Baru Baginya

Namanya sudah tak asing lagi dalam dunia perpolitikan tanah air. MH Said Abdullah yang nasionalis dan pengagum Bung Karno ini adalah wakil rakyat dari daerah pemilihan XI Madura, Jawa Timur.  Kini Said tercatat sebagai salah seorang anggota Komisi VIII DPR RI. Pria kelahiran Sumenep, Madura 22 Oktober 1962 buah hati pasangan Abdullah Syekhan Baqraf dan Ibu (Alm) Fatimah Gauzan punya cerita panjang dalam hidupnya.

Said menghabiskan masa kecil hingga remajanya di Sumenep. Pendidikan tingkat dasar diselesaikan di Sumenep. Kemudian dia melanjutkan SMP juga di Sumenep. Sekolah lanjutan atas pun diselesaikan di kota paling Barat pulau Madura ini. Minat Said dalam dunia politik terlihat sejak remaja. Dia aktif berorganisasi sejak SMA. Dia pernah menjadi Sekretaris OSIS SMA (1981). Berkat ketekunan dan kegigihannya, dia pernah menjadi ketua DPC Banteng Muda Indonesia, Kabupaten Sumenep (1982-1985).

Minat Said berorganisasi terbawa terus hingga tamat SMA. Pada tahun 1984, Said terpilih menjadi Ketua DPC Majelis Muslimin Indonesia Kabupaten Sumenep. Sejak itu, karir politiknya terus melejit. Sebagai politisi yang nasionalis, ia memilih Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Said terpilih menjadi juru kampanye nasional PDI pada 1987. Tanpa pernah lelah ia mengarungi lautan perpolitikan yang penuh tantangan. Karir politiknya dari waktu ke waktu semakin bersinar. Pada tahun 2004, Said terpilih sebagai anggota DPR RI. Kala itu, ia dianggap oleh pengurus DPP PDI P punya prestasi gemilang, karena berhasil merebut kursi di Sumenep.

Di kalangan teman-temannya, politisi Madura ini dikenal pandai bergaul. Pergaulannya lintas batas karena dia berteman dengan siapa saja tanpa memandang perbedaan etnis, kultur, agama dan aliran politik. Dia seorang sosok pendobrak (prime mover) yang bisa menerobos tembok-tembok primordial. Itulah sebabnya dia dijuluki sosok lintas batas oleh wartawan, dan Sekjen PDIP menyebutnya mutiara dari Timur.

Said mengaku sangat mengagumi Soekarno. Bahkan, ia memiliki foto khusus mantan Presiden Republik Indonesia ini dalam ukuran besar. Tidak hanya itu, Said memiliki koleksi buku-buku Bung Karno. Selain mengoleksi, dia juga rajin membolak-balik halaman demi halaman dari koleksinya itu. 

"Saya melihat Soekarno itu punya ajaran spesifik dan hebat, yaitu nasionalis yang relegius," pujinya. Tidak heran dia menyebut dirinya sebagai “anak ideologis” Bapak Proklamator itu. Bahkan saking kagumnya pada Bung Karno, tanda tangan politisi asal Madura ini bertuliskan “Soekarno”.


Said: Keluarga adalah Segalanya

Di balik seorang pria sukses, ada seorang wanita tangguh di belakangnya. Peribahasa itu juga berlaku pada karier politik dan bisnis yang dijalani Said Abdullah. Dukungan istri tercintanya Khalida Ayu Winarti luar biasa sehingga menjadikan Said Abdullah seperti sekarang ini. Sukses menjalani bisnis dan sukses berkarier di dunia politik dengan dua kali duduk sebagai wakil rakyat di DPR RI dari daerah pemilihan Madura.

“Bagi saya sekali beristri akan terus hingga dibawa mati. Ini prinsip. Ini segala-galanya,” tuturnya.

Tidak mengherankan jika pria santun ini sering kali memberikan kejutan-kejutan kecil yang bermakna dalam bagi istrinya. Kejutan bukan dengan hadiah barang mewah, melainkan sebuah puisi, yang mengungkapkan isi hati Said Abdullah untuk istrinya.

Harmonisasi dalam keluarga, dipercaya Said Abdullah adalah kunci penting dalam hidupnya. Baginya, menjalani apapun tanpa dukungan istri dan keempat anaknya yakni Kaisar Kiasa Kasih Said Putra, Lillahi MAS Bergas Da Marcil, MAS Azel Haq Sang Patroakh dan Seta Zerlinda Saneta Sawina, tidak akan bermanfaat dan sukses. “Apa artinya sukses tanpa mereka,” tambahnya.

Karena itu, Said Abdullah tidak menyia-nyiakan keluarganya demi apapun. Di waktu luangnya sebagai pebisnis dan anggota Komisi VIII DPR RI, dia menyempatkan diri untuk sekadar memberi makan ikan-ikan yang berada di kolam belakang rumahnya. Selain itu, juga menyempatkan diri untuk menonton televisi.

“Ya biasanya cuma ini. Nongkrong. Tapi tidak sering karena saya banyak nongkrong di Senayan (Gedung DPR RI, red),” ungkapnya.

Untungnya, anak-anak Said Abdullah mengerti kesibukan Buya (bapak,red) nya. Karena, Said Abdullah juga juga seringkali memberikan pengertian dan pemahaman bagi anak-anaknya.

“Anak itu bukan fotokopi Buyanya. Sehingga mereka tidak harus menjadi seperti Buyanya. Mereka bebas mau jadi apa asalkan menjadi orang yang berguna bagi semuanya,” tandasnya.

Puisi Said untuk sang Istri

Aku lihat negeriku dari senyummu !!

Buat istriku  Ayu Winarti
Istriku Ayu, hari masih pagi dan akan selalu pagi
Sebab panas matahari kau ganti teduh embun yang mengalir dari doa doamu
Di sepanjang jalan, di sepanjang bulan,  di sepanjang perjuangan, aku ingat namamu sebagai rindu dan candu
Di sini aku mengenalmu. Ayu sebagai waktu yang mengentaskan penat dan lelahku dengan senyummu
Istriku Ayu, di saat aku berjuang melawan cadas bebatuan, menantang kilat halilintar, melawan penindasan. Kau pun berbisik seperti angin mengalir diantara tulang sumsum dan darahku. Sampai malam dan siang tak habis waktu
Ayu, rasanya aku ingin berdiam di jantungmu, sambil menghitung jejak lusuh para petani yang bercampur pekat kopi dengan secangkir semangat yang kau tuang setiap hari hingga matahari tumbuh pagi
Di sini aku mengenalmu Ayu sebagai kupu kupu dan kesenian ini terasa begitu lembut di matamu
Istriku Ayu, meski detik menjadi tahun dan memangkas perjunpaan kita tapi ia menjelma sebagai bunga sabagai ucap " Merdeka "
Bagi mereka yang dikalahkan dan diasingkan.
Di sini akupun mengenalmu Ayu sebagai Kartini yang lahir kembali di Negeri ini


Penulis: Tri Wahyudi
Editor: Muhamad Irman

Galeri Video

Galeri Foto

BURSA IKLAN BARIS

Table 'seruuco_2011.bursa_posts' doesn't exist