Index Berita   Suara Pembaca   Foto   Video   Mobile   Iklan Baris Hari ini: Sabtu, 10 Desember 2016 02:20
ADIAN NAPITUPULU SH

Diskusi Menguak Caleg Aktivis dan Residivis di Pemilu 2014

Print
Ilustrasi (Istimewa)

Jakarta, Seruu.com - Dalam UU No.8/2012 Tentang Pemilu DPR, DPD, DPRD, seorang tersangka selama masih belum divonis sebagai terpidana masih dibolehkan diajukan oleh Partai Politik sebagai Caleg. Begitupun seorang mantan Narapidana, setelah 5 Tahun menjalani pasca hukuman pun juga boleh dicalonkan selama yang bersangkutan tidak mengulangi lagi kejahatan pidana.

Pertanyaannya sekarang, adalah apakah tahanan politik (tapol), yang selalu dikampanyekan rezim orde baru sebagai penjahat atau melakukan tindakan subversif (melawan negara) bisa menjadi caleg.

Pengamat Pemilu Ray Rangkuti menyatakan tidak masalah caleg berlatar tapol maju sebagai caleg dalam Pemilu 2014. Meskipun aturan  membolehkan bagi tersangka dan mantan napi untuk menjadi caleg, tetapi masyarakat pemilih sudah cerdas untuk menentukan pilihan.

"Tapol menjadi caleg tidak masalah. Mereka kan bukan koruptor, penjahat yang merugikan orang lain, tetapi orang yang disampingkan karena latar belakannya melawan. Hal Itu terjadi pada masa orde bary. Dimana orang dikomuniskan atau dikriminalkaan karena melawan kekuasan, " ujar Ray saat diskusi Komunitas Jurnalis Peduli Pemilu (KJPP) bertema "Menguak Caleg Aktivis dan Residivis di Pemilu 2014" di Media Center KPU JL. Imam Bonjol, Menteng, Jakarta, Jumat (17/5/2013).

Lebih lanjut Ray mengatakan, banyaknya aktivis 98 yang menjadi caleg atau tapol di berbagai partai politik saat ini merupakan langkah politik yang harus didukung.

"Saya mendukung aktivis atau tapol menjadi caleg. Itu spirit baru dan mampu meminimalisir dinasti politik yang saat ini menguasai parlemen. Ketangguhan mereka tidak akan diragukan saat menjadi legislator Senayan," tegas dia.

Senada dengan Ray, Panglima Hizbullah yang juga Caleg asal PBB Afriansyah Noor menyetujui caleg berasal dari mantan tahanan politik (tapol). Keputusan itu juga dinilai tidak akan menimbulkan masalah bagi bangsa Indonesia.

"Sah saja tapol menjadi caleg bahkan menjadi anggota DPR. Tapol karena itu luar biasa dikarenakan kritis dan mampu membawa aspirasi rakyat, " nilai dia.

Sementara pendapat Ferry Juliantono, aktivis yang pernah menjadi narapidana kasus demo BBM 2008, pasal tersebut tidak perlu dicantumkan lagi sebagai syarat pendaftaran calon anggota legislatif. Pasal tersebut, bagi dia, dipakai zaman Orde Baru. "Dulu anak-anak eks tapol juga dilarang dalam kegiatan politik. Sekarang tidak pantas, " terang Ferry yang menjadi Bacaleg dari Daerah Pemilihan Jabar VIII.

Hadir juga sebagai pembicara diskusi Aktivis 98 yang berasal dari Forkot Adian Napitupulu. Kata dia, mau berasal dari manapun latar belakang caleg, yang terpenting adalah pengabdian dan mampu memenangkan rakyat sebagai pemilik kedaulatan sah negeri ini.

"Namun, ironisnya, saat ini, caleg selalu berpandangan bahwa uang menjadi faktor utama mendapatkan suara masyarakat. Itu fakta yang tidak bisa dipungkiri. Jadi mau apapun latar belakang caleg, entah dari kalangan, Kiai, Profesor, Aktivis atau lain sebagainya bukan jaminan, " jelasnya.

Adian pun berharap, caleg jangan menerapkan  politik uang. Bagi dia memiliki dan menawarkan gagasan adalah terpenting dalam membangun pendidikan politik bagi masarakat. "Kalau bener seperti itu, konstituen pun akan ikut dalam gerakannya," ujar Adian yang menjadi caleg PDIP asal daerah pemilihan (dapil) Jabar V. [Simon]

Galeri Video

Galeri Foto

BURSA IKLAN BARIS

Table 'seruuco_2011.bursa_posts' doesn't exist